Peningkatan Kesejahteraan Dinilai Efektif

 Oleh Yamin Indas

       SULAWESI TENGGARA dinilai sebagai salah satu dari sedikit provinsi di Indonesia yang tergolong efektif meningkatkan kualitas kesejahteraan.   Menurut Harian Kompas edisi Senin, 3 Maret 2014, keberhasilan itu diukur dari rasio efiseiensi penggunaan anggaran terhadap IKD (Indeks Kesejahteraan Daerah) selama periode 2007-2012 yang tercatat 0,43 atau di bawah rata-rata nasional yang mencapai 0,57. Angka  yang semakin kecil dari rata-rata nasional merupakan indikator tingkat efektivitas upaya peningkatan kesejahteraan di Sulawesi Tenggara selama periode  tersebut.

       Sebagai pembanding kita sebut provinsi tetangga, Sulawesi Selatan. Hampir di semua hal, Sulawesi Selatan adalah  provinsi termaju di kawasan timur. Dia bersaing dengan  kondisi Jawa. Namun menurut Kompas edisi Sabtu, 1 Maret 2014, tingkat rasio efisiensi penggunaan anggaran terhadap  IKD dalam periode yang sama tercatat 0,50. Artinya, dia masih agak  tinggi dibanding Sulawesi Tenggara.

       Prestasi atau keberhasilan pembangunan di Sulawesi Tenggara seperti diuraikan di atas, memang tidak bisa ditutup-tutupi  hanya dengan kemahiran mengoceh ke sana ke mari, untuk mendiskreditkan kepemimpinan Gubernur Nur Alam. Tidak mungkinlah Matahari  bisa ditutup dengan sapu tangan.

       Dalam rangka pergantian kepemimpinan nasional tahun ini, surat kabar terkemuka Harian Kompas  memotret    peta politik, pokok pikiran, dan persoalan mendasar bangsa ini dengan melakukan serangkaian wawancara kepada para ketua umum partai politik dan para gubernur se-Indonesia.  Wawancara tersebut dimuat mulai bulan Januari. Tujuannya menurut saya, adalah untuk pencerahan dan sekaligus masukan kepada  presiden baru, serta mencari sosok-sosok calon pemimpin nasional.

   Siapa bakal pengganti Presiden SBY, kita sendirilah yang akan menentukannya  melalui pemilihan langsung dua tahap: pemilihan umum untuk anggota legislatif awal April, dan bulan Juli nanti pemilihan umum  presiden dan wakil presiden.

       Jika para calon presiden dan tim suksesnya memiliki kepekaan terhadap situasi dan persoalan bangsa dewasa ini, tentu kontribusi Kompas tersebut menjadi pembungkus kacang goreng tetapi akan disimak dan dijadikan bahan (masukan) bagi perumusan visi misi, atau bahan pelengkap bagi sebuah konsep  GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara).

       Konon, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) kini tengah menyiapkan konsep GBHN dalam rangka pembangunan semesta berencana 30 tahun, yang akan dilaksanakan secara bertahap.  Artinya, jika menang dalam dua tahap pemilu tadi, PDI-P akan mengembalikan praktek ketatanegaraan  sebelum reformasi yakni penetapan GBHN sebagai acuan dan arah pembangunan nasional.

GBHN tersebut menjadi pedoman presiden terpilih untuk membuat rencana pembangunan jangka pendek dan jangka menengah. Dengan demikian, pembangunan dilaksanakan lebih terarah, tidak simpang siur. Dan boleh jadi, GBHN itulah yang menjadi ‘visi misi’ calon presiden dari PDI-P.

Lebih netral

       Tulisan hasil wawancara dengan para pemimpin parpol dan para gubernur, oleh Kompas dibuka dengan slogan dalam bentuk tulisan tangan/ketikan dari ketua umum partai atau gubernur. Nur Alam sendiri menulis begini: “Jika waktu masih tersedia, pikiran dan tenaga terus tercurahkan. Sultra! Masyarakat dan pemerintah terus bekerja keras untuk Indonesia demi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dan negara”.

       Slogan atau pokok-pokok pikiran Nur Alam terasa lebih netral. Tidak menyindir rezim yang sedang  berkuasa. Ada gubernur yang malah menyebut syarat moral dan kriteria  untuk presiden mendatang. Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang, misalnya, menulis begini: “Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas dan berkarakter, serta berkomitmen melaksanakan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945, menuju Indonesia Hebat yang berdaulat dan berdikari serta  berkepribadian” (Kompas, 21 Februari 2014).

       Syahrul Yasin Limpo menulis: “Hanya dengan menata kelola segala sumber daya yang ada itu dengan baik, maka rakyat akan sejahtera, damai dan tenteram serta teratur hidup di dalamnya. Oleh karena itu, harus hadir pemerintahan yang berpihak  pada rakyat dan tidak meladeni diri sendiri, tidak korupsi yang menjadi jawaban dan harapan kita ke depan (Kompas, 1 Maret 2014).

Minta Keringanan Pajak

       Dari wawancara para gubernur  terutama dari kawasan timur, terlihat lagi secara gamblang untuk kesekian kalinya bahwa kondisi luar Jawa memang masih tetap terbelakang. Penyebabnya: miskin infrastruktur! Jalan, kereta api, pelabuhan laut dan udara, alat-alat transportasi, telekomunikasi, energi listrik, air bersih, waduk dan irigasi, masih jauh tertinggal. Bahkan, alat transportasi massal seperti kereta api masih nol belaka. Padahal Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Barat (Papua) pasti tidak akan menolak jika diberi kereta api karena dia jauh lebih murah dibanding tarif pesawat terbang.

       Nur Alam dengan lantang mengatakan, Sulawesi Tenggara sangat kaya dengan sumber alam. Akan tetapi kekayaan tersebut belum terkelola secara optmal akibat minimnya infrastruktur. Target Sulawesi Tenggara adalah pembangunan industri (hilirisasi) sektor pertambangan maupun sektor pertanian untuk mendapatkan nilai tambah jika seandainya infrastruktur tersedia secara baik.

       Salah satu infrastruktur yang sangat dibutuhkan Sulawesi Tenggara terkait dengan optimalisasi pemanfaatkan sumber daya alam, sebagaimana ditulis Kompas, ialah energi listrik. Gubernur Nur Alam mengatakan, modal investasi menjadi sangat tinggi akibat langkanya tenaga listrik. Untuk membangun sebuah industri pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel, investor harus mengeluarkan investasi tambahan buat pengadaan power plant  maupun beberapa infrastruktur yang lain.

       Di Sulawesi Tenggara saat ini tercatat 516 izin usaha pertambangan (IUP). Namun pengusaha yang nekad membangun smelter, jumlahnya  belum sebanyak jari-jari  sebelah tangan. Penyebabnya antara lain soal tenaga listrik, jalan, dan pelabuhan. Karena itu, Gubernur Nur Alam berharap pemerintahan presiden baru dapat memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar tersebut.

    “Dibutuhkan stimulan dari pemerintah pusat, misalnya, memberikan potongan pajak kepada pengusaha yang mau membangun smelter dengan membangun infrastrukturnya sendiri”, kata Nur Alam sebagaimana  dikutip Harian Kompas. ***

Komitmen Sofyan Wanandi

Sofyan Wanandi berdiskusi dengan Gubernur Nur Alam di kawasan pantai Teluk Kendari. Di kawasan itu bos Grup Gemala itu berniat membangun hotel berbintang. Foto Ikhsan Rifani SH

Sofjan Wanandi (kanan) menyimak penjelasan Gubernur Nur Alam tentang program revitalisasi  Teluk Kendari. Di kawasan pantai teluk yang molek itu bos Grup Gemala tersebut berniat membangun hotel berbintang. Foto Ikhsan Rifani SH

    AWAL November, tepatnya Ahad tanggal 3 November 2013 pengusaha terkemuka Sofyan Wanandi mengunjungi Sulawesi Tenggara. Ada beberapa komitmen dari tokoh yang pernah dekat dengan pusat kekuasaan Orde Baru itu bagi percepatan pembangunan Provinsi Sultra. Di antaranya pendirian sekolah teknik di Kendari, dan pembangunan industri perikanan di Pulau Wawonii, sebuah kabupaten baru di Sultra.

Di Bandara Haluoleo Kendari mantan aktivis 1966 kelahiran Sawahlunto (Sumatera Barat) 72 tahun silam,  itu disambut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sultra Gunawan Yiedri. Sofyan Wanandi adalah Ketua Umum Pengurus Harian Apindo selama 10 tahun terakhir (dua periode).

       Gubernur Sultra Nur Alam kemudian menjamu tamunya itu di Swissbel Hotel. Nur Alam yang juga berlatar belakang pengusaha memang sudah berkali-kali mengundang Sofyan Wanandi ke Sultra. Tidak heran jika pertemuan malam itu mereka larut dalam suasana hangat penuh keakraban.

       Kunjungan Sofyan Wanandi dianggap momen penting oleh Gubernur Nur Alam. Ia mendadak mengumpulkan para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), lalu menghadirkan Sofyan Wanandi di kantor gubernur. Di forum itu Sofyan Wanandi mengemukakan beberapa kemungkinan yang bisa dia perbuat bagi Sultra. Kemungkinan itu tentu saja sesuai potensi dan peluang yang tersedia sebagaimana dipaparkan Gubernur Nur Alam.

       Sofyan Wanandi adalah bos Grup Gemala. Kelompok ini  terdiri dari beberapa perusahaan yang bergerak antara lain di bidang industri komponen otomotif, kimia dan farmasi, properti, dan jasa pelayanan. Beberapa anggota Grup Gemala telah sukses melakukan ekspansi ke mancanegara seperti Australia, sejumlah negara  Asia, dan lain-lain.

       Potensi perikanan menarik perhatian Ketua Dewan Pengembangan Usaha Nasional (DPUN) itu. Maka Nur Alam pun sontak mengajak mantan sekretaris pribadi Soedjono Humardani (Aspri Presiden Soeharto di awal Orde Baru) melihat Pulau Wawonii di ambang masuk Laut Banda. Pulau ini sejak era Orde Baru diincar untuk dijadikan lokasi industri perikanan dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan potensi perikanan Provinsi Sultra.

       Namun, obsesi pemerintah itu tak kunjung menjadi kenyataan hingga rezim Orde Baru tumbang. Karunia lain turun. Pulau Wawonii berhasil dimekarkan menjadi daerah otonom. Dengan status itu diharapkan Wawonii bisa mengejar ketinggalannya di berbagai bidang. Pulau seluas 86,761 km persegi itu berpenduduk hanya sekitar 30.000 jiwa. Dinamika sosial dan ekonomi di pulau itu selama menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Konawe bergerak lamban akibat minimnya infrastruktur. Padahal Wawonii kaya dengan potensi sumber daya alam seperti perikanan dan mineral.

       Setelah menyandang  status daerah otonom Wawonii dengan sendirinya menciptakan peluang lebih luas, termasuk obsesi menjadikannya sebagai kawasan industri perikanan. Seperti dijelaskan Gubernur Nur Alam, Sofyan Wanandi berjanji akan mengajak investor Taiwan untuk melakukan investasi di bidang perikanan di kabupaten baru itu. Sofyan Wanandi menginginkan, nelayan setempat dibantu sarana dan alat-alat tangkap, lalu hasil tangkapan mereka ditampung investor perikanan. Plasma industri perikanan bukan hanya nelayan Wawonii tetapi juga nelayan dari sejumlah kabupaten kepulauan di Sultra dan Sulawesi Tengah.

       Komitmen lain mantan aktivis `1966 itu adalah rencana pembangunan sekolah teknik dan hotel berbintang di Kota Kendari. Sekolah teknik tersebut, menurut Nur Alam, akan mencetak tenaga teknik menengah di bidang mesin termasuk mesin kapal perikanan. Sekolah serupa telah dibuka di Semarang. Sofyan Wanandi minta pihak-pihak terkait untuk meninjau sekolah teknik di Semarang itu.

       Gunawan Yiedri, pengusaha asal Tiworo (Muna) yang  berdomisili di Surabaya menyebut Sofyan Wanandi sebagai tokoh yang konsisten. Karena itu, apa yang dijanjikannya buat Sultra, pasti dia realisasikan. “Dia terkesan dengan kepemimpinan Gubernur Nur Alam. Sofyan Wanandi mengatakan, jika ada beberapa orang saja gubernur di Indonesia seperti Nur Alam, maka negeri ini akan lebih pesat perkembangannya”, ujar Gunawan.

       Gunawan tidak ngecap. Salah satu kiat Gubernur Nur Alam untuk memacu pembangunan Sultra lebih cepat, memang ia mendekati pengusaha besar sekelas Sofyan Wanandi, misalnya,  agar mau berinvestasi di daerahnya. Contoh konkret lain adalah Lippo Group. Dia  berhasil melobi James Riady, pemilik Lippo Group. Sehingga hadirlah pusat wisata belanja  termegah di Sultra, di Kota Kendari. Swalayan tersebut setiap hari selalu dipadati pengunjung. Kota Kendari pun berkilau antara lain karena kehadiran Lippo Plaza. ***

Tajuk Rencana

Apalah Arti Sebuah Nama

     APALAH arti sebuah nama, what is in a name? Pernyataan sastrawan besar Inggris William Shakespeare (1582-1616) tersebut sering dikutip untuk menyikapi perihal tertentu, katakanlah perubahan nama lembaga pers surat kabar umum Kendari Ekspress menjadi Suara Kendari.

    Perubahan itu memang terlampau cepat. Kami terbit perdana awal Oktober 2013. Namun,  pada edisi ke-6 tanggal 4 November 2013 kami tampil dengan nama baru: Suara Kendari. Prinsip kami, untuk  bisa maju dan berkembang perubahan adalah keniscayaan di tengah arus perubahan serba cepat ini.

    Mengapa Suara Kendari? Banyak nama yang kami siapkan. Ada yang hanya satu kata dan terdengar netral, tidak mengejutkan dan tidak provakatif. Ada yang terdiri dari dua kata (frasa) tetapi sangat akrab di telinga masyarakat di mana kami hadir untuk menjadi pelayan di bidang informasi.

     Akhirnya kami putuskan kriteria yang kedua: Suara Kendari. Secara filosofis Kendari adalah simbol dinamika kehidupan bagi rakyat Sulawesi Tenggara, simbol kesatuan dan persatuan. Dia adalah ibu kota provinsi, pusat pemerintahan, dan pusat pelayanan. Maka dengan menggunakan nama Suara Kendari tetap mengukuhkan tujuan utama kami sejak awal, bahwa kami menerbitkan sebuah surat kabar umum sebagai sarana untuk Bersatu Memajukan Sultra, sebagaimana tertera di bawah logo ketika menggunakan nama Kendari Ekspress hingga menjadi Suara Kendari sekarang.

     Kami menegaskan bahwa dengan nama baru ini tidak mengubah karakter dasar sebagai surat kabar umum. Artinya, Suara Kendari bukan koran partisan atau suara salah satu partai politik dan organisasi kemasyatakatan, dan bukan pula corong penguasa atau pemerintah. Lembaga pers ini akan terbuka dan menjadi mitra semua kelompok. Suara Kendari akan menyuarakan aspirasi dan inspirasi, membuka interaksi positif dan dialog di antara kelompok tanpa membedakan latar belakang agama, sosial, politik dan budaya.

     Untuk mengemban tugas mulia tersebut, kami bertekad membangun manajemen sumber daya manusia dan lembaga secara profesional. Profesionalisme adalah landasan operasional. Sedangkan kode etik jurnalistik dijadikan pengawal dan tuntunan moral. Komitmen dasar ini tentu saja tidak sekali jadi tetapi memerlukan proses waktu.

     Kebebasan pers yang kembali tumbuh dan berkembang di era reformasi sekarang ini harus diartikan sebagai kebebasan yang bertanggung jawab, kebebasan yang   bermoral dan beretika sebagaimana digariskan dalam Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

     Dalam kerangka tersebut isi atau tulisan Suara Kendari  harus jujur, akurat/cermat, faktual, proprsional, berimbang (cover both side), cek dan cek-ulang. Masalah-masalah kontroversi akan dijelaskan duduknya perkara, tanpa intervensi opini dan subyektivitas penulis berita atau tulisan. Kami ingin agar Suara Kendari menjadi sumber informasi dan referensi yang terpercaya.

      Namun, sekali lagi komitmen ini tidak otomatis kami bisa wujudkan di tapak-tapak awal langkah kami. Pergulatan untuk menyiapkan sumber daya manusia dan piranti keras dalam rangka mengejawantahkan komitmen tersebut masih menjadi tantangan berat kami saat ini. Tetapi kami optimistis bisa menjawab tantangan itu karena kami memiliki modal idealisme dan semangat tinggi. ****

Tajuk Rencana

Keputusan Rakyatlah yang Terbaik

       RAKYAT Kabupaten Kolaka baru saja memilih pemimpinnya. Pasangan Ahmad Safei dan Muh Jayadin terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kolaka untuk periode lima tahun mendatang.

        Keputusan rakyat tersebut harus dihormati. Sebab keputusan itulah yang terbaik menurut mereka. Ahmad Safei dan Muh Jayadin adalah sosok yang terbaik berdasarkan bisikan hati nurani ketika mereka berada di bilik suara. Hati nurani adalah sumber kebenaran yang hakiki, sebagaimana slogan di Eropa pada zaman pertengahan yang mengatakan: Suara rakyat adalah suara Tuhan, Vox Populi Vox Dei.

       Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam SE MSi, sebagaimana dilaporkan pers, juga tidak bisa lain kecuali dia menghargai hasil pilihan rakyat Kolaka.   Ia mengatakan, pada prinispnya siapa yang menjadi pilihan masyarakat maka itulah pemimpin yang dipercaya untuk membangun daerah.

`      Selanjutnya, kita sependapat dengan komentar tim pemenangan Ahmad Safei-Muh Jayadin beberapa saat setelah pengumuman hasil penghitungan cepat (quick count), bahwa rahasia kemenangan Ahmad Safei adalah faktor kedekatannya dengan rakyat. Ahmad Safei dikenal dan mengenal daerah dan rakyat Kolaka. Dia Sekretaris Daerah Kolaka. Sebelum menduduki jabatan puncak birokrasi di tingkat kabupaten itu dia sudah sejak lama merintis kariernya dari bawah. Dalam rentang waktu yang panjang itulah Safei berinteraksi dengan masyarakat, bergaul, dan membangun persahabatan.

       Modal itulah yang mengantar Safei ke kursi pimpinan puncak Kolaka sekarang. Tentu ada faktor lain. Sebut misalnya pengelolaan politik yang dampaknya menciptakan suasana pro-kontra dalam masyarakat Kolaka. Situasi tersebut justru makin memantapkan kuatnya dukungan ke figur Safei.

       Namun, pesta demokrasi kini telah selesai dalam suasana damai dan demokratis. Tantangan pasangan Safei-Jayadin saat ini adalah menyatukan kembali seluruh komponen masyarakat Kolaka. Persaingan dan kompetisi telah berakhir ketika Safei dan pasangannya dinyatakan sebagai pemenang oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kolaka.

       Persatuan dan persaudaraan di antara semua kelompok dan komponen masyarakat adalah modal besar untuk menjawab tantangan sesungguhnya bagi pasangan ini. Yaitu menciptakan kesejahteraan seluruh warga masyarakat Kolaka.

       Kolaka relatif lebih makmur dibanding kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Kabupaten ini memiliki potensi yang mulai diolah secara tekun menjadi sumber ekonomi nyata oleh penduduk setempat. Perkebunan kakao (cokelat), persawahan, dan pertambakan hanyalah beberapa di antaranya.  Bila pasangan ini fokus pada ketiga basis perekonomian Kolaka tersebut, niscaya Kolaka akan tetap berada di depan dari 13 sampai 14 kabupaten/kota lain di provinsi ini.

       Pembangunan di sektor pertanian jauh lebih menjanjikan masa depan rakyat daripada melayani jebakan tambang nikel yang sarat dengan konflik dan nafsu keserakahan serta kerusakan lingkungan itu. Perebutan lahan nikel dan kewenangan tidak jarang menjadi sumber konflik di kalangan elite kekuasaan. Hiruk pikuk ini tidak boleh menenggelamkan nama besar Kolaka sebagai daerah surplus beras. ****

Bank Andara Layani Wong Cilik

Direktur  Utama PT Bank Andara Davit HL Yong (kanan) dan Presiden Komisaris Stphen Mitchell

Direktur Utama dan Presiden Komisaris PT Bank Andara David HL Yong (kanan) dan Stephen Mitchell. Foto Yamin Indas

 

     WONG CILIK atau rakyat kecil adalah lapisan masyarakat bawah yang terdiri dari kaum petani, pekerja kasar, buruh kecil, perajin, pedagang kecil termasuk bakul dan pedagang kaki lima.  Umumnya mereka berpenghasilan rendah. Ironinya, istilah wong cilik sering dipakai sebagai alat propaganda untuk mendapatkan kedudukan dan jabatan politik. Namun, ketika target itu telah dicapai, lapisan terbesar rakyat Indonesia itu kemudian dilupakan. Bahkan, hak-haknya dijarah atau dikorupsi untuk memperkaya diri, kelompok atau kroni.

       Jauh  berbeda dengan Bank Andara. PT Bank Andara ingin berbuat sebaliknya. Bank umum ini didirikan tahun 2009 di Jakarta dengan misi memperbaiki tingkat kehidupan wong cilik yang pengertiannya seperti didefinisikan di atas.

     Caranya? Bank Andara menyediakan layanan kredit kepada warga masyarakat ekonomi lemah melalui lembaga keuangan mikro (LKM), seperti bank perkreditan rakyat (BPR), koperasi simpan pinjam, dan lain-lain. Plafon kredit tak dibatasi, tergantung kebutuhan yang diperlukan calon nasabah. BPR dan koperasi dipilih sebagai mitra karena dinilai telah berperan sangat dominan dalam melayani pinjaman dana kepada masyarakat yang tak terakses jasa keuangan lembaga bank umum   yang biasanya menerapkan persyaratan pinjaman sangat ketat.

     Bank Andara didirikan pemegang saham asing dan lokal yang memiliki reputasi internasional dengan latar belakang kegiatan sosial dan perbankan, serta berkomitmen penuh untuk mengembangkan sektor ekonomi mikro di Indonesia. Para pemegang saham tersebut terdiri atas Mercy Corps, International Finance Coorporation (IFC), KfW Bankengurppe, Hivos Triodos Fonds, dan I Wayan Gatha.  Bank Andara telah menjalin kerja sama dengan sekitar 737 LKM di Indonesia.

       Di Indonesia tercatat tidak kurang dari 50.000 LKM yang melayani lebih 40 juta orang nasabah. Diperkiarakan masih lebih  banyak lagi warga masyarakat berpenghasilan rendah yang belum terlayani jasa keuangan perbankan. Mereka itu praktis sangat membutuhkan bantuan pinjaman dana dari BPR, koperasi simpan pinjam, dan lembaga keuangan mikro lainnya. PT Bank Andara berencana untuk menjalin kerja sama dengan paling sedikit 1.200 LKM dalam tiga tahun ke depan. Dengan demikian, sasaran pelayanan kepada kelompok ekonomi lemah akan semakin luas.

       Dalam rangka mengembangkan jangkauan pelayanan yang lebih luas, PT Bank Andara kemudian membuka cabang di sentra-sentra pelaku usaha ekonomi mikro seperti di Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur, Denpasar (Bali). “Dalam waktu dekat kami akan membuka cabang di Makassar”, kata Direktur Utama PT Bank Andara David HL Yong (50). Kehadiran cabang baru tersebut tentu untuk lebih mempermudah pelayanan kepada mitra di Sulawesi, termasuk Provinsi Sulawesi Tenggara.

       Usaha ekonomi mikro adalah basis kekuatan ekonomi di Provinsi Sultra. Usaha  tersebut mencakup pertanian dalam arti luas, yaitu pertanian tanaman pangan, pertanian tanaman perkebunan dan hortikultura, perikanan, peternakan. Kemudian usaha ekonomi mikro perkotaan seperti kerajinan, pertukangan, industri rumah tangga, pedagang bakulan, pedagang kaki lima, dan lain-lain. Umumnya pelaku usaha tersebut masih terperangkap masalah klasik seperti kesulitan modal dan keterampilan.

Pimpinan Bank Andara menggandeng PT Subur Sulawesi Sejahtera untuk membina petani kakao di Sultra. PT SSS adalah pemasok pupuk tablet bagi petani nasabah Bank Andara.

Pimpinan Bank Andara menggandeng PT Sulawesi Subur Sejahtera untuk membina petani kakao di Sultra. PT SSS adalah pemasok pupuk NPK tablet bagi petani nasabah Bank Andara. Duduk di tengah adalah Reza Sofyar, salah satu direksi PT SSS. Foto Yamin Indas

  Ibarat pepatah, pucuk dicita ulam tiba. PT Bank Andara hadir di Sultra dan berkomitmen untuk membantu masyarakat tersebut. Adapun kegiatan ekonomi yang dijadikan prioritas adalah usaha perkebunan kakao. Kakao merupakan komoditas bernilai tinggi. Namun belakangan ini terpuruk akibat berbagai kendala. Produksi dan produktivitas anjlok disebabkan kondisi tanaman makin tua, gangguan hama penggerek buah kakao (PBK), dan buah  busuk belum dapat dikendalikan secara optimal. Maka, penghasilan petani pun anjlok pula.

       Gubernur Nur Alam sangat mengapresiasi kehadiran Bank Andara di Sultra. Kepedulian sosial seperti yang ditunjukkan Bank Andara, menurut  gubernur, merupakan  kebajikan yang akan mengantar pelakunya masuk surga. Nur Alam ikut menandatangani perjanjian kerja sama antara PT Bank Andara dan BPR Bahteramas.

       BPR Bahteramas merupakan BUMD yang didirikan Gubernur Nur Alam untuk membantu pengembangan usaha ekonomi produktif masyarakat berpenghasilan rendah di kota dan pedesaan. BPR ini memiliki cabang di 12 kabupaten/kota di Sultra. Modal pangkal BPR Bahteramas  bersumber dari kontribusi dana block grant yang disalurkan ke setiap desa dan kelurahan selama lima tahun pertama kepemimpinan Gubernur Nur Alam bersama wakilnya Saleh Lasata. Setiap desa dan kelurahan mendapat bantuan dana segar sebesar Rp 100 juta setahun. Dari dana ini kemudian disisihkan sebesar Rp 5 juta untuk BPR Bahteramas. Oleh karena itu kepala desa atau lurah di Sultra secara ex officio adalah pemegang saham BPR Bahteramas.

       Gebrakan awal Bank Andara di Sultra dipimpin langsung Direktur Utama David HL Yong (50). Ia menandatangani naskah perjanjian kerja sama dengan BPR Bahteramas di Swissbel Hotel Kendari, Senin malam tanggal 21 Oktober 2013. Tanda tangan lainnya dibubuhkan Direktur Utama BPR Bahteramas Abdul Rasak. Keeseokan harinya David Yong meninjau cabang-cabang BPR Bahteramas terdekat, sekaligus juga memantau masyarakat calon nasabah di Kabupaten Konawe.

       David bergabung dengan Bank Andara pada akhir tahun 2011. Ia melihat potensi perkebunan kakao rakyat cukup besar. Akan tetapi potensi tersebut belum mendapatkan akses pembiayaan lembaga keuangan sehingga usaha rakyat sulit berkembang. Bahkan, penghasilan petani kakao cenderung makin menurun. Petani tidak berdaya mengatasi berbagai kendala dan masalah yang dihadapi. “Ukuran sukses bagi Bank Andara di Sultra adalah tercapainya sasaran pelayanan minimal 2.000 petani dalam waktu 2-3 tahun ke depan”, kata David serius menanggapi tantangan tersebut. Ia melanjutkan, idealnya adalah 10.000 petani. Tetapi target besar itu diprogramkan untuk tahap berikutnya.

       Dana kredit yang akan segera disalurkan Bank Andara adalah berupa pinjaman untuk pengadaan sarana produksi, seperti pupuk dan obat-obatan. Seperti dijelaskan David, kepada petani disediakan plafon Rp 6 juta per hektar. Penggunaan sarana produksi sangat penting dalam upaya meningkatkan produksi dan  mutu buah kakao.

       Menurut David, sektor keuangan mikro di Indonesia masih memiliki banyak kelemahan, antara lain bidang manajemen. Oleh karena itu, PT Bank Andara menyiapkan agenda penyelenggaraan bimbingan teknis tentang manajemen perbankan dan lembaga keuangan mikro  bagi para pengelola BPR yang menjadi mitra. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memperluas jangkauan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. ***

Lirik Lagu Daerah Kabaena: Sagori Ciptaan Yamin Indas & Renisiska

SAGORI LIWUTO OTENO TOKOTU’A
DAMOICO EA ONTOAHANO
HITITIRO MEBINTA YI TANGKENO
SAMPALAKAMBULA HAMO YI RAHADOPI

MOUSO TAHI DALILICU’O
MOPILA BUNGI DATESOREAKO
PODOMO ICO IRA KAI TEMASIAKO
PERANI MIANO DA ONTO
NGKANA WALANDA AMERIKA NIPO SINA

NGKANASI NAANA MIANONTO
PODO MERENDE ONTO SAGORI
LIWUTO OTENO TOKOTU’A
LIWUTO DAHANO TEHEOPAKO

WAIPODE DAMENE MPANTA
KUA WAIPODE NGKOHULA DODOE NGKOSAHEA
SAGORI NDOKA NEENO
KAI TEDODO AKO SAMPE DIKANA-KANA

Kendari, 26 Mei 2006

Lirik Lagu Daerah Kabaena: Sagori

 

Ciptaan Yamin Indas & Renisiska

 

SAGORI LIWUTO OTENO TOKOTU’A

DAMOICO EA ONTOAHANO

HITITIRO MEBINTA YI TANGKENO

SAMPALAKAMBULA HAMO YI RAHADOPI

MOUSO TAHI DA LILICU’O

MOPILA BUNGI DA TESOREAKO

PODOMO ICO IRA KAI TEMASIAKO

PERANI MIANO DA ONTO

NGKANA WALANDA AMERIKA NIPO SINA

NGKANASI NAANA MIANONTO

PODO MERENDE ONTO SAGORI

LIWUTO OTENO TOKOTU’A

LIWUTO DA HANO TEHEOPAKO

WAIPODE DAMENE MPANTA

KUA WAIPODE NGKOHULA DODOE NGKOSAHEA

SAGORI NDOKA NEENO

KAI TEDODO AKO SAMPE DIKANA-KANA

Kendari, 26 Mei 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.